Awal aku menginjakkan kakiku di Budi Murni 2. Sungguh bangganya diriku. Karena aku mampu melewati masa-masa SMP yang penuh kenangan itu. Baik kenangan yang manis maupun pahit. Semuanya sudah kulewati. Saat pertama sekali aku masuk ke kelas X-E, aku bertemu dengan seorang gadis berkacamata dan aku meminta untuk duduk di sampingnya. Lalu dia tersenyum padaku lalu dia memperbolehkanku duduk disampingnya. Namanya adalah Sarah Violita Sirait. Dia berasal dari SMP Kalam Kudus di Sekip. Semula ku tak tahu apa itu Sekip. Tapi dia menjelaskan padaku dan pada akhirnya aku tahu Sekip tersebut.
Dan yang duduk di depan kami adalah Duma dan Laurenzia. Yang agak gemuk namanya Laurenzhia. Sedangkan yang rambutnya ikal adalah Duma. Duma dan Laurenzia senang bercerita. Dan yang bikin aku gak suka yaitu mereka hanya bercerita bersama Sarah. Sedangkan aku dicuekin. Gak enak banget lho dicuekin. Dan biasanya kalo dicuekin gitu, aku paling hanya diam. Ya, soalnya apa lagi yang mau dilakukan lagi kalau bukan selain diam?
Aku, Sarah, Duma pada awalnya berteman akrab. Asal istirahat kami selalu bersama-sama. Dan biasanya yang paling duluan mengajak kami keluar adalah Duma. Dan bila sudah begitu, kami hanya keliling mengitari lantai 2 SMA Budi Murni 2 Medan. Sekedar melihat-lihat dan mencoba mengenali sekolah kami. Maklumlah, kami kan murid baru di sekolah itu. Jadi belum begitu mengenali lingkungan sekolah.
Tetapi seiring waktu berjalan, aku jadi sangat benci pada Duma. Aku benci padanya karena apabila jadwalnya hari ini kami piket. Dia melalaikan tugasnya dan bukan itu saja, dia juga suka memarah-marahiku dan hampir buat aku menangis. Karena seingatku, saat SMP hanya Deo sajalah yang pernah buat aku menangis. Dan sejak saat itu, aku jadi sangat benci terhadap Duma.
Tapi aku sungguh beruntung, ada seseorang perempuan bernama Sonya. Walaupun dia agak oon, tapi dia jauh lebih baik dari si Duma. Dia selalu membelaku. Apabila si Duma sudah mulai memarah-marahiku dan menjadi seorang diktator. Hanya dia yang mau menolongku dan membelaku. Dan dia berkata kepada Duma, "Duma, gadak otakmu. Kau jahat kali lah, Dum. Gak boleh kayak gitu lah Duma sama kawan kita sendiri. Harus baik gak boleh seperti itu. Datang Duma membalas, "Ooo.. Sonya, urusi ajalah urusanmu. Gak usah kau sok nasehatin aku. Banyak kali cakapmu. Bacrit kau, Sonya. Datang Sonya menjawab,"Sukakmu lah Duma. Udah Wenny biarin aja orang kayak gitu. Udah anggap aja dia radio rusak-rusak. Gak usah masukkan ke hati omongannya. Lagipula orang kaya gitu orang sakit jiwa. Biarin aja dia situ ya Wenny. Jangan nangis Wen. Ntar dia kesenangan. Ya, Wenny ya?
Aku yang tidak mengenal dekat Sonya sungguh terkejut dengan pembelaan yang dilakukan olehnya. Sejak saat itulah aku baru tahu bahwa si Sonya itu biarpun Oon tetapi hatinya baik. Dan sejak saat itu pula aku tak mau pilih-pilih kawan lagi dan mau berteman dengan siapa saja. Asal dia baik dan tidak memberikan pengaruh negatif terhadapku. Dan aku pun tak memandang Sonya sebelah mata lagi. Serta aku sudah berhutang budi kepadanya.
Serta kepada Duma. Lihat aja lah nanti ya Duma. Bila kita suatu saat nanti bertemu kembali. Akan kubalaskan dendam dan rasa sakit hati yang kau torehkan di hatiku. Akan kuanggap kau sampah yang tak berguna dan tak ada artinyadi hadapanku. Ingat itu!! Tetapi yang perlu kalian tahu saat dia memperlakukanku seperti itu. Sungguh sakitnya hatiku dibuat olehnya. Mulutnya itu melukai hatiku. Tajam hingga mengiris-ngiris ke dalam hatiku. Sungguh tak kusangka dia bisa berbuat seperti itu terhadapku.
Jujur saat itu aku pengen banget cakar-cakar mukaknya sampai hancur lebur. Rasanya aku itu pengen banget jambak rambutnya yang ikat itu lalu mendorongnya hingga jatuh, biar dia tahu betapa sakitnya perlakuannya itu terhadapku.
Dan palingan hanya Sonya saja yang jadi dewa penolongku. Sarah dan Laurenzia hanya diam, pura-pura tidak tahu, dan tak membelaku ataupun tidak membela Duma. Cenderung bersikap netral dan dingin dalam menanggapi persoalan yang kami hadapi.Sungguh kesal rasanya punya teman seperti itu. Tak berguna. Lerai kek, ini cuma diam aja kayak ayam piokon. Huh ! Macam kenak penyakit ayam tetelo saja mereka. Huh. Kesal >,<
Apalagi si Sarah itu, sok ngatur gitu orangnya, sok dewasa. Udah itu, sok baik lagi, menyebalkan ! Sebenanya banyak sih yang benci sama dia khususnya perempuan-perempuan di kelas X-E, kelas yang kudiami pada saat itu. Ya, palingan hanya laki-laki doank yang pada suka sama Sarah. Kesal kalau ingat si Sarah dan Duma itu. Bet!
Tapi, pertemanan kami tak bertahan lama. Setelah berlangung 7 jari, kami sudah jarang bersama-sama padahal kami masih satu kelas. Dan untungnya aku bertemu seorang perempuan yang jauh lebih baik dari mereka yaitu Saur Meiana Sitorus.Walaupun dia orangnya keras, tapi dia orangnya baik.Sebenarnya dia tidak sekeras yang kukira pada awalnya, setelah mengenalnya cukup jauh, ternyata dia lebih rapuh dariku.
Dan bersama Saur, hari-hariku yang 'bad luck' itu jauh lebih baik daripada ketimbang bersama Laurenzhia, Duma, dan Sarah. Dia sering menasihatiku, dia juga sering curhat padaku.Dialah penasihatku. Dan pertemanan kami semakin dekat, saat kami berdua pulang sekolah bersama.
Sungguh jauh lebih baik hari-hariku diisi olehnya. Semakin dekat, hidupku juga semakin berwarna. Tetapi ada satu sifat yang buat aku risih dan tak kusukai dari si Saur yaitu dia suka mengkritik kekuranganku.
Dia, asal aku dan dia jalan pulang sekolah bersama. Pasti dia bilang begini "Wen, kau kan cewek, mandilah tiap hari, terus pakai parfum. Biar wangi. Jujur ya, Wen. Maaflah kalau kau tersinggung. Aku gak tahan lama-kelamaan bikin pusing kepalaku 7 keliling."
Kalau sudah begitu, aku paling diam lalu menghela nafas, dan berkata kepadanya. Iya Saur. Tapi aku pusing cium bau parfum. Rasanya mau pingsan kalau cium bau parfum. Rasanya mau pingsan kalau cium bau parfum.
Lalu dia menjawab, Ya kan bisa kau beli parfum yang gak nyengat. Di pajus juga banyak yang baunya biasa saja. Pokoknya besok sudah kau pakek itu. Gak mau tahu aku pokoknya. Pokoknya kayak mana pun, ntah kayak mana caranya, bau badanmu itu harus hilang besok. Oke?
Kujawab,"Gak janji.. karena hari ini aku gak sempat beli parfum..
Lalu jawabnya,"Terserah.. pokoknya besok kau udah gak bauk lagi."
Kujawab padanya,"Ah, kau..sok!"
jAWABNYA, " Hahaha, kok ngambek? Kan demi kebaikanmu, Wen.."
Jawabku, "Iya, emang.. cuman pengertian dikit napa..?"
Jawabnya, " Oke, pokoknya ku tunggu paling lambat 3 hari lagi, parfummu udah kau beli. Dan gak bauk lagi."
Jawabku, "Nah, gitu donk. Kalau gitu aku bisa. Oke deh, Saur. Pasti kuusahakan. Besok juga akan kubeli parfumnya. Tenang saja.
Jawabnya,"Asal ma toho"
Jawabku,"Iya, asal ma toho juga deh."
Jawab kami berdua,"Hahaha, asal ma toho too."
Ya, emang kritiknya kelihatan seperti bercandaan, tetapi kalau dikritik terus palagi tentang hal yang sama, lama kelamaan 'bad mood' juga kan?
Ya, mula-mula terasa susah untuk menerima kritikan-kritikan pedasny itu. Tapi lama-lama jdi kebal. Dan menganggap kritikan-kritikannya itu sebagai camilan Tic-Tac. Ya, dinikmati aja kayak musik. Hahaha. Kejam.. Biarin. Dia juga kejam samaku. Kerjaannya mengkritik aku meluluh sih.
Sudah itu dia juga mengkritik sikapku. Dia bilang kalau aku itu lebay. Jadi, harus berubah. Paling tidak, kurangilah Wen. Kau gak risih dengan tingkahmu yng lebay itu? Dan ingat, Wen. Orang Winta itu mu berteman samamu hanya untuk mempermalukanmu, dan menjdi bahan bulan-bulanan di kelas dan di sekolah. Aku aja Wen yang gak mengalami itu, merasa kasihan dan risih samamu.
Apa kau gak ingat Wen. Yang waktu itu, orang Winta mukul-mukulin kau di hadapan kelas X-D. Winta itu jahat sammu. Antek-anteknya pun sma kayk pemimpinnya yaitu Winta. Jadi, kau dengarkanlah cakapku itu. Dan, kau ubahlah sikapmu itu. Aku bukan bermaksud memaksa. Karena semuanya kukembalikan ke tanganmu. Mau berubah atau tidak. Itu terserahmu. Pokoknya sebagai sahabat yang baik wajib memberitahukan kesalahan sahabatnya bila memang sahabatnya itu bersalah. Dan jangan tersinggung ya, Wen kalau mungkin omonganku terlalu kasar dan pas kenak ke hatimu.
Eica dan Saur adalah temanku. mereka adalah temanku yang selalu bersamaku pada saat istirahat. mereka sering memberi saran dan kritik padaku. aku sangat merindukan mereka. biarpun waktu terus berganti, aku akan tetap ingat sama mereka. i miss you my friends.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar