Awalnya kehidupan keluarga kecil ini bahagia. Sebut saja keluarga Bastian. Bastian dan istrinya Veronica memiliki 3 anak. Yang sulung bernama Ricky, yang kedua bernama Rina, dan yang terakhir bernama Septian. Pada suatu mereka sekeluarga bepergian naik kapal dari Jakarta ke Palangkaraya. Ternyata kapal yang mereka tumpangi menabrak gunung api di laut dan akhirnya kapal mereka kapal dan tenggelam. Pada saat mereka pergi ke Palangkaraya, yang ikut adalah Bik Surti, Bastian, Veronica, Ricky, Rina, dan Septian kecuali Nenek Marry dan Kakek Steve. Hanya mereka yang tidak ikut bepergian pada saat itu. Berhubung kakek Steve dan Nenek Marry menjaga rumah keluarga Bastian. Saat mereka menonton TV, alangkah terkejutnya mereka melihat berita. Karena berita itu mengatakan bahwa kapal Fery yang dari Jakarta ke Palangkaraya telah karam dan hilang. Diduga kapal tenggelam dan seluruh penumpang meninggal. Betapa terkejutnya kedua pasangan renta itu.
"Nek.. Marry, ke sini kau sebentar!!"
"Ada apa Steve?? Kelihatannya kau sangat panik. Ada apa??"
"Itu. itu.. Bastian dan keluarganya kecelakaan"
"Apa aku tak mendengarnya."
"Keluarga Bastian kecelakaan."
"Apa kau bilang? Keluarga Bastian kecelakaan? Apa aku tak salah dengar?"
"Tidak, Marry.. Aku baru saja melihat berita kalau kapal yang mereka tumpangi karam dan tenggelam. Diperkiran seluruh penumpangnya tidak selamat atau barangkali hilang."
"TIDAKKK.. Itu tidak mungkin. Aku.. aku.."
Lalu Nenek Marry pingsan dan shock akiba mendengar berita buruk tersebut.
"Marry, Marry, bangun kau! Jangan pingsan! Marry.. Marry.."
Kakek berkata kepada Nenek sambil enepuk-nepukkan pipi nNenek yang tampak keriput.Lalu pembantu mereka yang kedua yaitu Pak Paijo, suami dari Bik Surti datang dan bertanya kepda kakek Steve
"Ada apa, Kek?"
"Ini, ini nenek pingsan."
"KENAPA?"
"Tadi.. tadi aku melihat di TV ada berita buruk menimpa keluarga kita"
"Ah, kakek mungkin barangkali kakek pikun. Mungkin bukan keluarga kita, tapi kelurga orang lain. Kakek bercanda kali."
"Tidak, tidakPaijo. Aku tak bercanda saat ini. Aku serius. Keluarga Bastian kecelakaan."
"Apa? Tuan Bastian dan keluarganya kecelakaan?
"Iya, Paijo. Tapi kamu harus tahan ya mendengarnya. Kamu tahu tidak kalau kata penyiar itu tak ada satu pun penumpang yang bakal selamat. Atau kalau pun selamat selamat, mungkin barangkali hilang."
"Tidak.. itu tidak mungkin terjadi. Aku tak percaya. Surtii... walaupun kau cerewet, aku sangat menyayangimu. Jangan tingalkan aku. Hu..hu..hu." Paijo pun menangis saat dia mengingat Suti, istrinya yang turut ikut dalam bepergian ke Palangkaraya.
"Nek.. Marry, ke sini kau sebentar!!"
"Ada apa Steve?? Kelihatannya kau sangat panik. Ada apa??"
"Itu. itu.. Bastian dan keluarganya kecelakaan"
"Apa aku tak mendengarnya."
"Keluarga Bastian kecelakaan."
"Apa kau bilang? Keluarga Bastian kecelakaan? Apa aku tak salah dengar?"
"Tidak, Marry.. Aku baru saja melihat berita kalau kapal yang mereka tumpangi karam dan tenggelam. Diperkiran seluruh penumpangnya tidak selamat atau barangkali hilang."
"TIDAKKK.. Itu tidak mungkin. Aku.. aku.."
Lalu Nenek Marry pingsan dan shock akiba mendengar berita buruk tersebut.
"Marry, Marry, bangun kau! Jangan pingsan! Marry.. Marry.."
Kakek berkata kepada Nenek sambil enepuk-nepukkan pipi nNenek yang tampak keriput.Lalu pembantu mereka yang kedua yaitu Pak Paijo, suami dari Bik Surti datang dan bertanya kepda kakek Steve
"Ada apa, Kek?"
"Ini, ini nenek pingsan."
"KENAPA?"
"Tadi.. tadi aku melihat di TV ada berita buruk menimpa keluarga kita"
"Ah, kakek mungkin barangkali kakek pikun. Mungkin bukan keluarga kita, tapi kelurga orang lain. Kakek bercanda kali."
"Tidak, tidakPaijo. Aku tak bercanda saat ini. Aku serius. Keluarga Bastian kecelakaan."
"Apa? Tuan Bastian dan keluarganya kecelakaan?
"Iya, Paijo. Tapi kamu harus tahan ya mendengarnya. Kamu tahu tidak kalau kata penyiar itu tak ada satu pun penumpang yang bakal selamat. Atau kalau pun selamat selamat, mungkin barangkali hilang."
"Tidak.. itu tidak mungkin terjadi. Aku tak percaya. Surtii... walaupun kau cerewet, aku sangat menyayangimu. Jangan tingalkan aku. Hu..hu..hu." Paijo pun menangis saat dia mengingat Suti, istrinya yang turut ikut dalam bepergian ke Palangkaraya.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar